Sabtu, 23 April 2016

BAHAN PIDATO KARTINIAN

Ditulis oleh Untung S. Drazat

Biar gak cuma berisi karnaval pakaian adat, acara Kartinian besok diisi dengan lomba baca puisi dan lagu. Disertai dengan renungan atas perjuangan dan pemikirannya...Paling tidak, agar kita bisa mencecap sumsum pemikiran Kartini, tak sekadar menjilati tulang-tulangnya. Bisa mendapatkan nyala api idenya, bukan sekadar buram asapnya.

Rencananya akan disampaikan pada perayaan Hari Kartini di SDN Marunda 02 Pagi, 
21 April 2016
--Dirangkum dari berbagai sumber


Berikut ini beberapa rangkuman mengenai sosok Kartini yang kuanggap penting dalam perspektifku:

1. Hanya Kartini, pahlawan wanita Indonesia yang diperingati hari lahirnya. 

Ada banyak pahlawan wanita Indonesia. Ada Tjoet Nja’ Dhien, Tjoet Mutia, HR. Rasuna Said, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, RA Kartini, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain. Tapi hanya Kartini yang diperingati hari lahirnya…


Karena, Ibu RA Kartini adalah satu-satunya pahlawan wanita yang menuliskan ide dan pikirannya secara runtut dalam bentuk tulisan. Jadi sampai sekarang ide dan pemikirannya bisa dipelajari dan dikaji ulang.

2. Kartini adalah pelopor pendidikan bagi anak-anak yang tak mampu dan perempuan.
Pada zaman Kartini, hanya anak bangsawan dan terutama laki-laki yang bisa bersekolah. Walaupun sekolah rintisan Kartini berkembang, justru, setelah Kartini wafat.  Rosa Manuela Abendanon-Mandri, salah satu sahabat Kartini dari Belanda berupaya mengumpulkan surat-surat Kartini dan kemudian diterbitkan menjadi buku. Hasil penjualan buku itulah yang menjadi modal awal pendirian sekolah-sekolah Kartini.

3. Kartini adalah salah satu tokoh yang berkali-kali mengusulkan penerjemahan Qur’an
Kebanyakan orang Islam bisa membaca huruf Arab, tetapi tidak paham artinya. Ibu Kartini resah, sehingga ia membicarakan hal ini kepada sahabat penanya, Stella mengenai keinginannya ada Al-Qur’an terjemahan, agar umat Islam lebih paham akan kitab sucinya.
Usulannya dan permohonannya yang terus-menerus, membuat Kiai Soleh Darat (guru mengajinya Kartini) berikhtiar menerjemahkan al-qur’an dan menghadiahkannya untuk Kartini. Sayangnya, baru 13 Juz yang diterjemahkan, Kiai Soleh keburu wafat.

4. Kartini merelakan beasiswa yang menjadi haknya untuk bersekolah ke Belanda kepada Agus Salim
Kepada teman-temannya di Belanda agar, Kartini meminta tolong untuk memberikan beasiswa yang akan diperolehnya dari pemerintah Belanda untuk diberikan kepada Agus Salim. Sayangnya, Agus Salim tidak menerima. Agus Salim yang cerdas ini kemudian dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional.

5. Buku “Habis Gelap TerbitlahTerang” merupakan terjemahan dari kalimat “Minazh-Zhulumati ilan-Nur” (Al-Baqarah ayat 257)
Ada penafsiran bahwa salah satu surat Kartini yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan terjemahan Kartini terhadap kalimat “Minazh-Zhulumati ilan-Nur” yang dikutipnya dari Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 257 hasil karya terjemahan Kiai Soleh Darat.

6. Kartini adalah tokoh emansipasi
Kartini berpemikiran bahwa manusia mempunyai hak setara. Tak ada manusia yang boleh lebih tinggi darii yang lain. Kecuali para nabi dan Rasul utusan Tuhan. Begitupun antara laki-laki dan perempuan. Punya hak yang setara. Hak memperoleh pendidikan, misalnya dinyatakan dalam hadits Nabi Muhammad, bahwa “Diwajibkan untuk menuntut ilmu bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan” ....

Wallahu a'lam bisshawab

Kamis, 14 April 2016

ANAK BERKESULITAN BELAJAR DALAM FGD

(Slipi, Jakarta Barat,  11 Mei 2015)

Oleh Untung S. Drazat

ABSTRAK
Catatan merupakan resume dan analisis tambahan dari penulis mengenai hasil diskusi terbatas tentang anak berkesulitan belajar. Diskusi ini mengenai keberadaan anak berkesulitan belajar dalam perspektif dan kerangka pembelajaran mereka di Indonesia. Dianalisis juga alternatif kemungkinan kerangka pembelajaran mereka dalam setting sekolah inklusif dan sekolah khusus. 

Diadakan atas prakarsa Bapak Jokokoentono (Galeri Nasional, Jakarta) dan Bu Arini Magdalena Soewarno (Sekolah Talenta, Jakarta). Diadakan di Sekolah Talenta Jakarta. Peserta diskusi antara lain Bapak Jokokoentono, Ibu Arini Magdalena Soewarno, Ibu Ages Soerjana, Bapak Yuli Riban, Ibu Irma Sph, dan penulis.



A.      Latar Belakang
1.       Karakteristik anak berkesubel:
a.       Normal secara fisik maupun mental              (tidak cacat fisik /mental)
b.      IQ normal                                                       (tidak di bawah rerata tapi bisa di atas rerata)
c.       Faktor penyebabnya internal , yaitu penyebab medis minimum brain disfunction (MBD)   atau disfungsi minimal di otak (DMO)        (bukan faktor eksternal)
d.      Ada gap yang lebar antara potensi kecerdasan vs prestasi-nya di sekolah.

2.       Menurut penelitian Balitbang Dikbud (1997) di sekolah-sekolah dasar reguler di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung,  dan Kalimantan Barat terdapat 13,94% anak berisiko tinggal kelas. Rinciannya adalah:
a.       22%              anak dengan nteligensi tinggi
b.      25%              anak dengan inteligensi sedang
c.       52,6%           anak dengan inteigensi rendah

Dengan demikian, tanpa memasukkan 52,6% anak yang berinteligensi rendah, anak yang berisiko tinggal kelas itu sekitar 6,6%  adalah anak berkesubel yang kita maksudkan.

3.     Karena sebagian besar anak berkesubel terdapat di sekolah reguler, dengan guru-guru reguler, kondisi anak berkesubel berisiko tidak dipahami secara tepat. Implikasi dari kondisi ini antara lain:
a.       Terjadinya penyederhanaan permasalahan anak berkesubel, sehingga dianggap tidak serius
b.      Mempertukarkan antara kondisi berkesubel dengan hambatan belajar yang lain:
1)      Intellectual Disorder
a)      Lamban belajar                        (IQ antara >70 - hampir 90)
b)      Tunagrahita Ringan                (IQ antara 50 – 70)
2)      Anak Normal dengan Problem Belajar
Penyebab anak normal dengan problem belajar adalah berasal dari faktor luar anak dan bersifat sementara; misalnya karena kondisi sosial ekonomi rendah, konflik keluarga, perpindahan sekolah yang eksesif, dll. Dengan demikian, bila faktor luar penyebab itu terselesaikan, maka problem belajar anak pun akan hilang dengan sendirinya.
c.       Kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan anak berkesubel  tidak tereksplorasi secara optimal dalam proses pembelajaran
d.      Penanganan yang tidak tepat membuat prestasi yang diraih anak jauh dari potensi optimalnya.

4.       Berikut adalah implikasi kurang dipahaminya anak berkesubel di dunia persekolahan:
a.       Bila anak berkesubel di sekolah reguler murni
Anak berkesubel kemungkinan besar tidak tertangani secara tepat sesuai kemampuan, hambatan, minat dan kebutuhannya. Karena, di sekolah-sekolah reguler tidak disediakan secara khusus guru pembimbing khusus (GPK) yang memahami dan mampu menangani ABK, termasuk anak berkesubel.

b.      Bila anak berkesubel di sekolah reguler-inklusif
1)      Bila tersedia gpk yang memadai dari segi kuantitas maupun kapasitas dalam memahami dan menangani, anak berkesubel akan meraih prestasi optimal. Kondisi sekolah inklusif seperti ini amat ideal dan amat sulit ditemukan.
2)      Bila tidak tersedia guru pembimbing khusus (GPK) yang memadai dari segi kuantitas maupun kapasitas dalam memahami dan menangani, anak berkesubel tidak akan meraih prestasi optimal. Kondisi sekolah inklusif seperti ini amat lazim ditemukan.
3)      Kerjasama antara guru reguler dan GPK di sekolah inklusif adalah hal yang niscaya diperlukan. Dan sayangnya, kerapkali GPK menjadi tumpuan satu-satunya apabila terdapat anak berkebutuhan khusus (ABK), termasuk di antaranya anak berkesubel, yang dianggap sult tertangani.

c.       Bila anak berkesubel di sekolah khusus
Sebelum membahas implikasi yang terjadi apabila anak berkesubel bersekolah di sekolah khusus, ada baiknya mencermati dulu istilah sekolah khusus.

Ada ketakajekan peristilahan ‘sekolah khusus’ yang perlu dijernihkan dalam hal ini. Di Indonesia, pada masa pra-merdeka sampai tahun 1990-an, anak berkebutuhan khusus disebut sebagai  ‘anak luar biasa’. Oleh karenanya, sekolah untuk mereka disebut sebagai sekolah luar biasa (SLB). Perkecualian pada SPLB C Cipaganti Bandung, yang menamai dirinya sebagai sekolah pendidikan luar biasa C (untuk anak tunagrahita).

Pada tahun 1990-an, anak-anak ini mempunyai istilah baru yaitu anak berkebutuhan khusus, berasal dari istilah children with special need di dunia pendidikan Barat. Namun, demikian penamaan untuk sekolah untuk mereka tidak mengalami perubahan, tetap SLB (sekolah luar biasa).
SLB-SLB ini dibagi-bagi sesuai dengan jenis kebutuhan khusus anak yang ditanganinya:
-       SLB-A     : untuk anak tunanetra (hambatan penglhatan)
-       SLB-B     : untuk anak tunarungu (hambatan pendengaran)
-       SLB-C     : untuk anak tunagrahita (keterbelakangan mental)
-       SLB-D     : untuk anak tunadaksa (hambatan gerak)
-       SLB-E     : untuk anak tunalaras (hambatan emosional dan penyesuaian diri)

Dalam perkembangan berikutnya, muncullah fenomena baru saat mana anak autisma, anak berkesubel, anak hiperaktif, dan seterusnya banyak teridentifikasi.   Anak-anak yang disebut terakhir ini adalah ABK juga, namun belum terakomodasi dalam SLB-SLB yang ada. Menjawab kebutuhan ini—maaf hanya menyebut beberapa sekolah yang berlokasi di Jakarta dan skitaranya, muncullah sekolah khusus Pantara dan Talenta untuk anak-anak berkesubel, sekolah Mandiga, Kriakon untuk anak-anak autisma, dan lain-lain.

Seiring dengan itu muncul pula sekolah-sekolah inklusif (swasta) atau sekolah reguler yang bermeta­morfosis menjadi sekolah inklusif.  Sekadar menyebut yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, Sekolah Madaniah, Adik Irma, Patmos, Lazuardi, PSKD Mandiri, BPK Penabur, termasuk beberapa sekolah “interasional” semacam Highscope, Jakarta International School, dan lain-lain, menerima anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak berkesubel dan autisma untuk menangani mereka secara bersama-sama dengan anak-anak reguler lainnya. Sampai di titik ini, setakat yang saya tahu, belum ada sekolah negeri yang secara khusus menangani anak berkesubel.

Lupakan dulu semua perbedaan dan konsekuensi dari istilah sekolah khusus di atas. Kita asumsikan, sekolah khusus yang kita maksudkan di sini adalah sekolah khusus bagi anak-anak berkesubel seperti sekolah Pantara dan Sekolah Talenta, Jakarta. Bila anak berkesubel bersekolah di sekolah khusus seperti ini mereka mungkin akan mendapatkan perlakuan sebagai berikut:

1)    Menurut pengalaman pribadi di sekolah khusus Pantara (saya tidak tahu kurikulum sekolah Talenta), sekolah khusus ini mengguna­kan kurikulum sekolah reguler, dalam hal ini kurikulum sekolah dasar reguler dengan berbagai modifikasi. Modifikasi kurikulum dilakukan pada hampir semua komponen kurikulum, yakni pada (a) tujuan, dalam KTSP adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD); (b) materi, dalam KTSP adalah Standar Isi (SI); (c) strategi/metode/proses, dalam KTSP adalah pengalaman belajar atau kegiatan pembelajaran; dan (d) evaluasi pembelajaran.

2)    Modifikasi dilakukan sesuai dengan kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan siswa.
3)    Modifikasi pada komponen tujuan akan menuntut modifikasi pada komponen lainnya.
4)    Modifikasi pada komponen materi akan terutama menuntut modifikasi pula pada strategi pembelajaran.
5)    Dalam komponen evaluasi, anak mendapatkan dua laporan hasil belajar; (a) raport SD sesuai tuntutan kedinasan; dan (b) raport uraian, yakni raport khusus yang isinya mendeskripsikan proses dan alasan tercapai atau tak tercapainya tujuan kurikulum selama rentang waktu tertentu. Dalam raport uraian ini, disampaikan deskripsi pula proses dan alasan tercapai atau tak tercapainya tujuan modifikasi perilaku yang ditetapkan psikolog sekolah.

Dengan tuntutan modifikasi dan penyesuaian proses pembelajaran seperti ini, maka agar seoptimal mungkin dapat mengakomodasi kemampuan, hambatan, minat,dan kebutuhan anak, maka sekolah khusus berkesubel membutuhkan:
1)    Tenaga pendidikan yang mahir serta memahami dan menghayati peran sebagai pendidik ABK, dalam hal ini anak berkesubel
2)    Pembatasan jumlah siswa dalam satu rombongan belajarnya
3)    Tetap berpihak pada kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan anak berkesulitan belajar ketimbang tuntutan kurikulum semata.

Apabila sekolah khusus dapat mengakomodasi kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan anak berkesubel, maka kemungkinan besar anak berkesulitan belajar akan dapat mencapai prestai seoptimal mungkin sesuai potensi yang dimilikinya. Namun demikian, karena layanan pendidikan ini bersifat ideal karena harus multi-disiplin, multi-profesi, variasi pendekatan/strategi pembelajaran serta pemabatasan jumlah siswa, kelemahan sekolah khusus untuk anak berkesulitan belajar biayanya relatif tinggi.

B.      Permasalahan
1.    Dari uraian di atas maka dapat dicatat beberapa permasalahan mengenai anak keberadaan berkesubel  dan layanan pendidikannya secara umum, yaitu:
a.       Keberadaan dan kondisi anak berkesubel masih belum dipahami dan diterima secara tepat
b.      Pendekatan, layanan, dan penanganan anak berkesubel masih jauh dari optimal
c.       Belum optimalnya layanan pendidikan yang dapat mengakomodasi kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan anak berkesubel. Layanan pendidikan dimaksud termasuk layanan pendidikan di sekolah reguler-murni, sekolah reguler-inklusif, SLB, sekolah khusus.
d.      Di satu sisi kecenderungan mendorong anak berkesubel untuk dilayani di sekolah inklusif adalah langkah positif, tetapi di sisi lain cenderung melahirkan tindakan “pembiaran” terhadap anak berkesubel karena tidak semua sekolah inklusif memiliki GPK yang kapabel memahami dan menangani anak berkesubel  di sekolah inklusif tersebut.
e.      Belum adanya sekolah negeri yang secara khusus menangani anak berkesubel mengisyaratkan belum tergeraknya pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan, dan Depdikbud untuk melihat dan urun rembuk memberikan pelayanan bagi anak berkesulitan belajar.
f.        Belum tersedianya atau tidak diterbitkannya model kurikulum bagi anak berkesubel  yang sudah dirancang Balitbang Dikbud sekali lagi mengisyaratkan pihak pemerintah masih setengah hati dalam memperhatikan dan memberikan pelayanan bagi anak berkesubel
g.       Biaya operasional layanan pendidikan khusus (swasta) untuk anak berkesubel relatif mahal.

2.       Keberadaan sekolah khusus bagi anak berkesubel sampai saat ini masih mencari bentuk yang sesuai. Beberapa pihak masyarakat/yayasan yang mengoperasikan sekolah khusus bagi anak berkesulitan belajar masih belum seragam, baik itu peristlahannya maupun pengindukannya secara kedinasan. Ada yang berupa sekolah reguler (SD/SMP/SMA/SMK) ada juga yang berafiliasi ke pendidikan khusus (dahulu SLB). Beberapa pertanyaan yang muncul adalah:
a.    Sekolah khusus yang tepat bagi anak berkesulitan belajar itu sekolah khusu yang bagaimana?
b.    Apakah sekolah khusus sebagai istilah lain dari SLB sebelum tahun 1990-an?
c.     Apakah sekolah khusus ini berbeda dengan SLB yang sudah ada?
3.       Lalu mengenai kurikulum untuk sekolah khusus bagi anak berkesubel, muncul pula pertanyaan:
a.    Kurikulum bagi sekolah khusus untuk anak berkesubel ini bagaimana?
b.    Setakat belum ada kurikulum khusus bagi anak berkesubel, kurikulum yang manakah yang digunakan?
c.     Apakah sekolah khusus bagi anak berkesulitan belajar menggunakan kurikulum sekolah reguler yang dimodifikasi?
d.    Komponen kurikulum yang mana saja yang boleh dimodifikasi?
e.    Batasan dan kriteria modifiksi kurikulumnya bagaimana?
f.     Perlukah dibuat kurikulum khusus tersendiri bagi anak berkesubel?
g.    Pada tahun 2007-2008, Pusat Kurikulum Balitbang Diknas pernah merancang “model kurikulum bagi anak berkesubel”; bisakah dimanfaatkan, didayagunakan, ataukah perlu dikaji ulang terlebih dulu lagi untuk disesuaikan dengan perkembangan kekinian?


C.      Alternatif Solusi
1.       Beberapa alaternatif solusi yang dapat diusulkan mengenai keberadaan anak berkesulitan belajar secara umum antara lain:
a.       Agar keberadaan dan kondisi anak berkesubel dapat dipahami dan diterima secara tepat, diperlukan kampanye terus menerus mengenai keberadaan anak berkesulitan belajar terutama di lingkungan pendidikan juga di lingkungan lain
b.      Belum optimalnya layanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar yang disebabkan oleh mahalnya biaya layanan, perlu dipikirkan solusinya, misalnya dengan subsidi khusus bagi anak berkesulitan belajar yang berasal dari kalangan menengah ke bawah
c.       Belum optimalnya layanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar yang disebabkan oleh kurangnya SDM yang memahami dan kapabel menanngani anak berkesubel,mungkin bisa dilakukan dengan semacam pendidikan-pelatihan yang berjenjang. Kerjasama dengan pihak akademisi memahami dan GPK yang berpengalaman menangani anak berkesulitan belajar bisa menjadi alternatif solusi.
d.      Banyaknya anak berkesulitan belajar di sekolah inklusif perlu dibarengi dngan peningkatan kuantitas dan kualitas GPK yang disiagakan untuk menangani anak berkesulitan belajar di sekolah inklusif tersebut.
e.      Belum adanya sekolah negeri yang secara khusus menangani anak berkesubel seharusnya mendorong pemerintah untuk membangun sekolah khusus untuk anak berkesubel, sehingga bisa dijadikan model dan rujukan bagi sekolah swasta yang memiliki tujuan yang sama.
f.        Solusi bagi tingginya biaya operasional sekolah khusus (swasta) bagi anak berkesulitan belajar antara lain:
§  Bila perlu pemerintah membangun sekolah negeri khusus untuk anak berkesubel, sehingga sebagian biaya opersionalnya dianggarkan oleh pemerintah, dan masyarakat yang memiliki anak berkesubel menjadi tidak terlalu terbebani. Langkah ini agak mewah karena pemerintah harus memulai dari awal, dari infra sampau supra-strukturnya.
§  Mengubah status swasta sekolah penyelenggara pendidikan bagi anak berkesulitan belajar menjadi sekolah negeri sekolah swasta yang sudah ada. Langkah ini lebih hemat karena pihak pemerintah tidak memulai dari awal melainkan “hanya” mengambil alih tanggung jawab kepemilikan dan menanggung biaya operasional selanjutnya.
§  Mengangkat guru (GPK) yang PNS untuk diperbantukan di sekolah swasta (istilahnya guru DPK) yang menangani anak berkesubel. Langkah ini bisa sebagai langkah startegis karena hanya berkaitan dengan status kepegawaian guru DPK tersebut. Namun langkah ini akan kurang berdampak luas apabila jumlah guru DPK-nya hanya sedikit.
§  Memberikan, meningkatkan jumlah, atau memperluas jenis bantuan operasional khusus bagi swasta yang khusus menangani anak berkesubel .


2.       Mengenai jenis/jenjang persekolahan, diajukan beberapa alternatif solusi sbb:
a.       Pemerinta perlu menentukan, sekolah khusus untuk anak berkesulitan belajar ini ada di jenis sekolah yang mana. Apakah semacam SLB atau semacam sekolah reguler. Pilhan ini harus mempertimbangkan pula jenis ijazah yang akan dikeluarkan sekolah tersebut karena akan berkaitan dengan prasyarat mengikuti jenjang pendidikan anak berkesubel selanjutnya. Kalau sekolah tersebut adalah sekolah reguler (dengan mempertimbangkan tingka kecerdasan mereka yang rerata atau di atas rerata), otomatis ijazahnya adalah dapat dipergunakan sebagai prasyarat mendaftar ke sekolah lanjutannya.
b.      Adapun kalau pilihannya bahwa sekolah khusus untuk anak berkesubel termasuk SLB, perlu dipikirkan pula bagaimana status ijazahnya bila anak berkesubel lulusan di jenjang pendidikan sebelumnya ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya. Perlu pula diperhitungkan pula bagaimana langkah antisipatifnya: seberapa luas pilihan lulusan memilih sekolah lanjutan yang ada?
c.       Dapat juga pemerintah membuat nomenklatur baru untuk pendidikan anak berkesubel ini. Misalnya bahwa sekolah khusus bagi anak berkesubel merupakan jenis sekolah baru yang dalam pelaksanaan pembelajaran mungkin mirip dengan sekolah khusus lainnya dengan pertimbangan hambatan dan kebutuhan-nya. Namun ia berhak mendapatkan ijazah yang sama dengan sekolah reguler dengan mempertimbangkan level kemampuan (kecerdasannya yang rerata atau di atas rerata) sebagaimana anak reguler lainnya.

3.       Adapun alternatif solusi yang bisa diajukan mengenai keberadaan kurikulum untuk sekolah khusus bagi anak berkesubel antara lain:
Pemerintah mulai harus menentukan apakah bagi anak berkesulitan belajar ini perlu kurikulum khusus atau tidak. 
a.    Bila anak berkesulitan belajar memerlukan kurikulum khusus, langkah perancanganan (atau lebih tepatnya perancangan kembali) kurikulum bagi anak berkesulitan belajar perlu segera direncanakan. Sebagaimana telah disebutkan, pada tahun 2007-2008, Pusat Kurikulum Balitbang Diknas pernah merancang “model kurikulum bagi anak berkesubel”; namun sayangnya dengan pertimbangan yang kami tak tahu, model kurikulum itu tidak sampai diterbitkan oleh Pusat Kurikulum.
b.   Bila pemerintah memang berniat merancang kurikulum khusus untuk anak berkesulitan belajar, draft Model Kurikulum Anak Berkesulitan Belajar yang ada di Pusat Kurikulum dapat dijadikan entry point-nya.
c.    Adapun bila pemerintah tidak berniat melanjutkan draft kurikulum tersebut, mungkin langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
§  Harus ditentukan kurikulum apa yang harus dijadikan rujukan bagi sekolah khusus untuk anak berkesubel.
§  Bila rujukannya adalah kurikulum sekolah reguler, berarti pihak sekolah akan memodifikasi kurikulum tersebut agar sesuai dengan tingkat kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan anak berkesubel di sekolah tersebut. Dengan demikian, harus pula dirinci ketentuan dalam modifikasinya:
-  Kriteria modifikasi           :     Batasan dalam menurunkan/menaikkan bobot, menambah/mengurangi SK-KD, menambah/mengurangi materi, menambah/mengurangi evaluasi, dst
-  Teknik modifikasi            :     Bagiamana langkah memodifikasinya         
-  Implikasi Modifikasi        :     Bentuk strategi pembelajaran, bentuk evaluasi dll.
§   Bila ada kemungkinannya  sekolah khusus untuk anak berkesulitan belajar menggunakan/memodifikasi kurikulum SLB, perlu dijelaskan pula kurikulum SLB yang boleh digunakan/dimodifikasi.   

Selasa, 25 Maret 2014

ANTARA PENJUAL BENSIN, DARAH TINGGI, DAN AIR MENYALA

Oleh Untung S. Drazat

Pernah melihat papan pemberitahuan penjualan bensin eceran? Kebanyakan tulisannya adalah “Di sini menjual bensin” atau malah “Disini menjual bensin”. 

Saya kerap tergelitik bertanya dalam hati, siapa sebenarnya penjual bensin itu? Apakah Si Bapak Penjual itu bernama “Pak Di Sini”? Pasti bukan! Padahal dari bunyinya, kalimat itu jelas, yang menjual bensin itu bernama “Di Sini”! Karena dalam kalimat aktif seperti itu harus ada satu jabatan kallimat yang bernama subjek. Dan subjek biasanya mendahului predikat. Dalam kalmat itu predikatnya adalah “menjual” dan objeknya adalah “bensin”. Berarti, kata “Di Sini” bukanlah kata keterangan tempat, melainkan subjek

Kalau kata “di sini” adalah keterangan tempat, seharusnya kata itu bisa di letakkan di akhir atau di tengah kalimat. Tak percaya? Cobalah ubah susunan kalimatnya! Misalnya menjadi “Menjual bensin di sini” atau “Menjual di sini bensin”. Nah, kacau ‘kan jadinya?

Minggu, 12 Januari 2014

Small Classes Key for LD Students

 


Harti Sulastri must repeat the spelling of “bioskop” (cinema) several times before her students are able to grasp the correct spelling.

She teaches a class of students with learning difficulties (LD) at the Learning Differences Pantara elementary school in Tebet Barat Dalam, South Jakarta.

Students with LDs encounter difficulties with reading (dyslexia), writing (dysgraphia), counting (dyscalculia) and speaking (dysphasia). They have average intelligent quotients (IQ), even higher than common students in some cases.

‘Talenta’ Eyes Special Children Future for Brighter


Dikutip dari: 
http://www.thejakartapost.com/news/2014/01/08/talenta-eyes-special-children-future-brighter.html


"Children are history makers who will change the future of a nation."


Every child has the right to an education that respects and develops their personality and abilities. In reality, many Indonesian children — especially children with learning disabilities — do not have access to education.

It was with the spirit to assist children with learning disabilities that Arini Soewarno set up Talenta School back in 2007. Located in West Jakarta, it is one of the few schools in the country that provides primary and secondary education for special needs children. The school, which has 17 teachers and 27 students, aims to provide a suitable learning environment for children with learning disabilities.

Jumat, 15 Maret 2013

SOFT LAUNCHING BUKU ASESMEN DAN REMEDIAL UNTUK BAHASA DAN MATEMATIKA

Bahasa Indonesia dan matematika boleh dibilang menjadi pelajaran yang tak disukai sebagian besar anak-anak di sekolah. Matematika dianggap rumit karena harus berhitung sedang bahasa membuat siswa mesti pandai merumuskan kata serta kalimat. Padahal kalau bisa menguasai dua mata pelajaran tersebut otomatis akan lebih mudah untuk memahami mata pelajaran lainnya.





Faktor penyebab anak-anak kesulitan memahami suatu mata pelajaran beragam. Mulai dari faktor fisiologis, sosial, kejiwaan, intelektual dan pendidikan. Karena itu beragam pula cara untuk membantu anak yang berkesulitan belajar di sekolah. Salah satunya lewat buku Assesment dan Remedial. Buku ini digagas oleh Hellen Keller International (HKI) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Koordinator Untuk Pendidikan dan Disabilitas Hellen Keller International Vitriani masih banyak anak-anak Indonesia yang kesulitan memahami pelajaran bahasa Indonesia dan matematika. ”Sebagian anak-anak di pendidikan dasar mengalami kesulitan, membaca, menulis dan berhitung,” ujar Vitriani. Hal yang sama diungkapkan oleh Guru Pembimbing Khusus di SDN Marunda 02 Pagi, Untung Sudrajat.

Kata Untung, dua pelajaran tersebut dianggap sulit lantaran Matematika membutuhkan logika dan bernalar. Sementara kebanyakan sekolah tak terlalu mementingkan hal tersebut. ”Yang dikejar adalah melulu materi,” cerita Untung. Padahal kalau saja logika berpikir bisa dikuasai, soal apapun bisa dikerjakan siswa. ”Matematika dan Bahasa Indonesia adalah keterampilan bukan mempelajari materi,” terang Untung.

Senin, 11 Maret 2013

RESENSI FILM: DISLEKSIA INDIA VERSUS DISLEKSIA INDONESIA


Ada dua film tentang anak disleksia. Yang satu made in India, yang lain made in Indonesia. Yang versi India tokoh sentralnya bernama Ishaan Awasti. Yang versi Indonesia, Ikhsan Effendi. Oh, ternyata yang versi Indonesia ”meniru” (kata yang lebih sopan dari "menjiplak") dari versi India.


 
sumber foto: http://www.imdb.com/media/rm1233622016/tt0986264
Identitas Film (1) : Taare Zameen Par
Rilis
:
21 Desember 2007
Tagline
:
Every child is special
Produser/Sutradara
:
Aamir Khan
Penulis Skenario
:
Amole Gupte
Konsep/Riset/Editor
:
Deepa Bathia
Penata Musik
:
Shankar Mahadevan, Ehsaan Noorani,Lou Mendonca
Sinematografi
:
Setu
Pemain
:
Aamir Khan (Ram Shankar Nikumbh), Darsheel Safary (Ishaan Awasthi),Tisca Chopra (Mama/ Maya Awasthi), Vipin Sharma, (Papa/Mr. Awasthi), Sachet Enginer (Dada/Yohaan Awasthi, kakak Ishaan)

Sumber Foto: http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/filminfo/movie.php?uid=db43618f0725

Identitas Film (2) : Ikhsan: Mama I Love You
Rilis
:
20 Juni 2008
Tagline
:
Kasih membuka mata dan pendidikan adalah jembatan antar jiwa
Produser/Sutradara
:
Rico Michael Bradley
Penulis Skenario
:
Rico Michael Bradley
Konsep/Riset/Editor
:
-
Asisten Sutradara

Richard Olsen
Soundtrack
:
Alexa & Kenie
Art Director
:
Rusli Andaah
Pemain
:
Ibnu Jamil (Pak Guru Harun), M. Farouq (Ikhsan Effendi),Wulan Guritno (Mama), Jesse Lantang (Papa Effendi), Gahara (Kakak Ikhsan)


Film versi India berjudul Taare Zameen Par (selanjutnya TZP) sedangkan versi Indonesia judulnya Ikhsan: Mama, I Love You (selanjutnya I:MILY). Kedua film ini memiliki bangunan cerita yang persis sama: perjalanan anak disleksia; dari minder menjadi percaya diri, dari tak diacuhkan menjadi 'tajuk berita'. Berikut ini sinopsis keduanya.

Ishaan/Ikhsan adalah seorang murid sekolah dasar yang memiliki karakteristik disleksia, yaitu suatu kondisi dimana individu mengalami kesulitan membaca karena hambatannya dalam mempersepsi bentuk, ukuran dan arah sebuah simbol huruf atau angka. Karena kondisinya ini ia tidak naik kelas beberapa kali.